Aside

Dera and The Past Memories #NulisRandom2015 #Day23

Tags

Ketika sudah sampai rumah, Dera langsung bergegas ke kamarnya. Dia harus mengatur rencana agar dia bisa tahu tentang Alfi dan hubungannya dia dengan seseorang yang kira-kira di taksirnya. Ah, dia baru kepikiran, kenapa tidak di cari di akun sosial medianya aja ya? Duh, Dera kebiasaan deh, lemot.

Dera membuka aplikasi FB. Setelah mencari dengan nama lengkap Alfi di kotak pencarian, akhirnya ketemu juga. Dera langsung menjadi stalker. Ternyata Alfi tidak terlalu sering online. Dera melihat beberapa status terakhirnya, yang sekitar empat hari lalu. Di status terdapat kalimat yang menunjukkan Alfi, kalau dia sedang menaksir seseorang. Dera langsung membacanya.

– Andai lo tau, selama ini gue selalu merhatiin lo, selalu seneng ngeliat lo bisa tersenyum. Gue suka sama lo sejak kita kenalan. Gue ngerasa lo beda. Lo itu seperti… Bidadari yang udah lama gue tunggu hadir di hidup gue. Untuk orang yang selalu ada di hati gue..

Ah, Alfi. Romantis banget sih lo, beruntung banget cewek yang lo taksir, kata hati Dera. Dia pun melihat status yang lainnya.

-Gue suka ngeliat lo waktu senyum. Apalagi karena gue.

Ada lagi status yang lain.

-I for u, D.

D? Siapa? Gue? Gue Dera, awalnya D kan? Hah, Alfi naksir gue? Ah, tapi ga mungkin, gue terlalu ngarep, Dera membatin.

Dera pun terus melihat status yang lain, bahkan yang udah dulu sekali. Dia cekikikan, ternyata dulu Alfi alay juga, sama seperti dirinya dulu ketika baru kenal Facebook.

Aside

Dera and The Past Memories #NulisRandom2015 #Day22

Tags

Kini Dera dan Nadya sudah berada di kafe. Dera gelisah, namun dia tak sanggup lagi untuk berdiam diri.

“Eh Nad, lo sama Alfi punya hubungan apa sih? Kok kayanya kalian akrab banget deh,” kata Dera.

“Eh? Gimana ya? Gue sama dia deket sih beberapa hari ini, dia sering nelepon gue, terus dia juga tadi pagi jemput gue Ra, kenapa emang?” Nadya heran Dera bertanya seperti ini.

“Gue mau nanya aja sih, jadi kalian deket ya? Hm, apa lo punya rasa lebih sama dia? Lo naksir dia gitu,” tembak Dera.

“Gue juga bingung. Gue gak tau suka sama dia apa enggak, tapi yang gue rasain waktu deket sama dia, gue ngerasa nyaman aja, dia orangnya asyik banget sih,”

“Oh gitu ya? Hm, kalo misalnya dia tiba-tiba nembak lo gimana? Lo terima?” kata Dera dengan sangat hati-hati.

“Hahaha, lo ada-ada aja deh, kayanya sih dia ga mungkinlah suka sama gue, kayanya sih dia suka sama cewek anak sekolah kita juga, dia bilang gitu sih waktu nelepon gue Ra,”

“Oya? Kira-kira siapa lo tau ga?” Dera tidak sadar dia terlalu antusias bertanya.

“Gue juga gatau siapa. Udah deh, kok lo interogasi gue sih? Jangan-jangan lo lagi yang naksir. Mending pesen apa gitu kek, haus nih. Lo baru dateng udah nanya macem-macem aja,” Nadya tampaknya kurang suka dengan pembicaraan kali ini.

“Oh oke, sori deh. Yaudah lo mau pesen apa Nad?” tanya Dera. Dia merasa tidak enak terhadap Nadya.

“Hm, seperti biasa aja deh, capuccino yah,”

“Oke, gue juga sama deh,”

Pelayan mencatat pesanan mereka. Dan setelah pergi, mereka tampak asyik mengobrolkan sesuatu. Sebenarnya Dera mau bertanya lebih jauh tentang Alfi, namun dia mengurungkan niatnya. Setidaknya, Dera mendapat beberapa informasi, meskipun tidak puas dengan pernyataan Dera tadi. Sepertinya Dera harus mencari tahu sendiri.

Aside

Dera and The Past Memories #NulisRandom2015 #Day21

Tags

Kini Dera dan Nadya sudah berada di kantin. Suasananya penuh sesak dan ramai. Tak ketinggalan suara-suara teriakan para siswa maupun siswi yang sedang memesan makanan meramaikan suasana kantin ini. Dera dan Nadya pun memilih tempat di bagian pojok yang untungnya masih tersisa untuk dua orang. Oh tidak. Tidak. Satu tepatnya, tapi karena badan mereka kurus-kurus tampaknya cukup, meski harus kesempitan sedikit.

Setelah memesan makanan mereka pun menikmatinya. Nadya, kelihatan lahap sekali. Dera heran, padahal porsi makan Nadya banyak, tapi badannya tetap tidak gemuk-gemuk. Dera menikmati makannya dengan tidak berselera.

Andai saja suasana kantin ini tenang, mungkin Dera akan menanyakan perihal Alfi kepada Nadya. Namun melihat kantin yang begini ramai, Dera pasrah. Mungkin ia akan mencoba waktu pulang sekolah nanti.

“Nad, lo lahap banget, beneran ga sarapan?” tanya Dera ketika melihat Nadya menyuapkan sesendok penuh nasi goreng pesanannya.

“Iya Ra, gue tadi bangun kesiangan, jadi buru-buru ga sempet sarapan dulu,” jawab Nadya setelah menelan makanannya.

“Emang lo semalem tidur jam berapa? Gak biasa-biasanya lo kesiangan?” selidik Dera.

“Hm, semalem gue abis curhat gitu sama Alfi. Dia nelepon gue lho Ra! Dia asyik banget orangnya,”

Deg. Apalagi ini? Apa Dera ungkapkan sekarang saja? Tampaknya waktunya sangat pas. Tapi mengingat banyak siswa-siswi didekat mereka, Dera ragu. Dia takut jika ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Oya? Hm, Nad, gue mau nanya sama lo, tapi ga sekarang deh, balik sekolah kita ke kafe yang deket rumah gue itu yuk,” akhirnya itulah kalimat yang keluar dari mulut Dera.

“Kenapa ga sekarang sih Ra? Tapi okedeh,” Nadya menyanggupi ajakan Dera.

“Sip deh,”

Dalam hati Dera berdoa semoga nanti berjalan lancar. Dia pun mengedarkan pandangan, secara tidak sengaja dia bertatapa dengan mata itu, mata yang begitu teduh, milik Alfi. Selama beberapa detik Dera tidak berkedip, dia juga tidak mampu berkata, bahkan dia lupa cara bagaimana senyum. Hanya debar jantungnya yang semakin kencang.

Andai dia tahu, andai kamu tahu Alfi, aku punya rasa terhadapmu. Ya, aku yakin, aku tak tahu sejak kapan rasa itu hadir, tapi kini hanya satu yang kurasa, sepertinya aku menyayangimu, kata hati Dera.

Aside

Dera and The Past Memories #NulisRandom2015 #Day20

Tags

Dera langsung menarik tangan Nadya. Dia melihat sekilas Nadya tampak terkejut, tapi Dera malah mengencangkan tarikannya.

“Ayo, Nad. Cepet gue mau ngomong sama lo. Berdua doang. Empat mata, buruan nanti Alfi malah ngikut lagi. Penting nih,” kata Dera terburu-buru, dia tidak peduli dengan tatapan aneh sekaligus kaget yang ditampakkan oleh sahabatnya.

“Aduh Dera, mau ngomong apaan? Emang penting banget apa sampe lo narik-narik tangan gue. Sakit tau! Lo mau ngomongin apaan? Terus ngapain ngomongnya disini?” Nadya tampak kesal dengan tingkah Dera tadi, dia pun heran hal penting apa yang mau di bicarakan Dera dan kenapa dia malah membawanya ke gudang sekolah.

“Sori deh Nad, ng… Ya menurut gue ini penting banget. Gue mau ngomong kalo—” Dera tiba-tiba tidak melanjutkan kata-katanya. Dia sekarang tampak ragu. Dera pun sadar kenapa dia malah ke gudang sih? Ah, Dera tidak siap. Benar-benar tidak siap.

“Kalo apa? Duh Ra lo mau ngomongin apa sih? Kenapa ga di kantin aja? Kan bisa sambil makan. Gue laper nih,” Nadya tampak tidak sabar dan dia memegangi perutnya. Tampaknya dia memang benar-benar lapar.

“Lo laper? Gak sarapan? Yaudah deh yuk ke kantin Nad,” Dera merasa bodoh. Dia tidak siap hari ini. Tapi kapan siapnya? Hatinya mulai risau.

“Hah? Terus ngapain lo ngajak gue kesini kalo gitu? Ampun deh gue ama lo. Ih, apa lo kesambet setan gara-gara abis sakit kemaren?” Nadya bergidik.

“Duh, udah deh gausah ngaco. Lo laper kan? Yaudah kita ke kantin aja sekarang,”

Akhirnya mereka pun meninggalkan gudang dan berjalan menuju kantin. Mereka tak banyak bicara. Dera sibuk dengan pikirannya, dia sangat merasa bimbang. Apa dia harus menanyakan hari ini? Bodohnya Dera, kenapa dia tadi membawa Nadya ke gudang? Dera tampaknya menyesali pilihannya tadi yang sekarang malah membuatnya ragu akan di ungkapkan hari ini atau tidak. Nadya juga diam. Dia terlihat masih bingung dengan kelakuan Dera tadi. Sungguh aneh. Tapi Nadya tak terlalu mengambil pusing, karena mungkin saja Dera lagi bertingkah iseng dan aneh. Dan yang jauh lebih penting adalah mengisi perutnya, agar cacing-cacing yang ada diperutnya tidak terus-menerus meronta.

Aside

Dera and The Past Memories #NulisRandom2015 #Day19

Tags

“Halo Ra, asik udah masuk. Gimana lo udah sehat banget kan?” sambut Nadya.

“Eh? Iya gue udah sehat Nad,” kataku sambil senyum, sedikit terpaksa.

“Bagus deh Ra, kalo lo udah sehat kan gue gak khawatir” lanjut Alfi.

“Lo khawatir? Sama gue?” kata Dera spontan.

“Hm, iya. Nadya juga. Temen-temen sekelas juga maksudnya,” kata Alfi, terlihat dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Oh,” hanya itu kata yang keluar dari mulut Dera mendengar kata-kata Alfi barusan.

“Yaudah, gue ke bangku gue dulu ya. Kita lanjut nanti ngobrolnya oke? Tuh kayanya bentar lagi guru paling disiplin bakalan dateng,” Alfi menuju bangkunya.

“Oke.” kata Dera dan Nadya bersamaan.

Benar saja, Bu Saras, guru paling disiplin di sekolah ini, sudah memasuki kelas. Bahkan belum bel!

Murid-murid pun menyimak pelajaran dengan serius. Begitu pula Dera. Dia terlihat begitu serius memperhatikan, namun tatapannya terlihat kosong. Banyak pertanyaan dibenaknya yang perlu segera dikeluarkan. Harus hari ini. Dera sudah bertekad. Berarti nanti dia harus berbicara empat mata saja dengan Nadya. Sebaiknya Alfi jangan terlibat terlebih dahulu.

Kenapa jam istirahat terasa begitu lama? Ugh. Dera tak henti-hentinya melirik jam tangannya setiap lima menit sekali, ah tidak. Tidak. Bahkan tiga menit sekali!

Baiklah. Sepertinya memang ini adalah hari yang sangat mendebarkan. Banyak yang harus diketahui kebenarannya. Seberapa siapkah Dera menghadapi? Hanya dia seorang yang mengetahuinya.

Disela-sela pikirannya yang semakin kacau, tiba-tiba terdengar bunyi yang mengagetkan. Bunyi itu terdengar seperti… Bel! Ah, waktunya yang ditunggu-tunggunya telah tiba!

Aside

[Review] Alter Ego by Rani Puspita

Tags

,

Judul: Alter Ego: Nayla Vs Setengah Jiwanya
Penulis: Rani Puspita
Penyunting: Tina Leoni
Penata Letak: Githa Eka
Pendesain Sampul: Githa Eka
Penerbit: PT Lintas Kata
Terbit: Cet. 1 – Jakarta, 2015
Halaman: iv 228 hlm; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-71445-7-6

**BLURB**

Bahagia dirasakannya, kehilangan pun dihadapinya.
Namun, apakah disebut takdir jika orang yang disayangi satu per satu meninggalkannya. Bahkan saat menemukan cintanya, ia pun kehilangannya.

Secara tidak sadar “sesuatu” telah mengubah dirinya sejak kecil. Ia pun bergelut dengan separuh jiwanya, berusaha memahami dirinya sendiri di antara masa suram.

Dan di antara masa suram, masih ada seseorang yang rela menjadi bagian dalam hidupnya. Rela memberikan hal yang selama ini tidak dimilikinya.

Nayla, seorang gadis remaja yang belajar untuk mengetahui siapa yang benar – benar ada untuknya. Ia juga belajar memahami bahwa ia dapat memilih untuk menjadi bahagia.

**REVIEW**

Dalam cerita awal novel ini, kita akan dikenalkan dengan kehidupan masa kecil seorang gadis yang sangat memilukan, gadis kecil itu bernama Nayla. Kehidupan masa kecilnya yang begitu membuat terpukul, dia tidak boleh bermain keluar rumah, selalu melihat ibunya dimarahi dan dibentak oleh ayahnya, itulah yang membuat kehidupan gadis kecil itu berbeda dengan kehidupan anak-anak seusianya. Hanya satu hal yang menyebabkan ini terjadi, ayahnya tak menginginkan kehadirannya. Tak hanya itu, cobaan demi cobaan terus menerpanya. Ibunya meninggal disaat usianya 6 tahun.

Sepuluh tahun berlalu, Nayla tumbuh menjadi remaja yang tertutup. Namun, dia bertekad untuk berubah saat masa putih-abu di depan matanya. Nayla ingin memiliki teman, dia tidak ingin selalu merasa kesepian. Meskipun Nayla sudah tinggal dengan Kakek dan Nenek yang begitu menyayanginya, ia selalu merindukan sosok Ibu.

Waktu terus berlalu, secercah harapan bahagia mulai hadir di hidup Nayla saat mengenal Popi, sahabatnya. Namun, ada yang janggal dalam diri Nayla. Sebuah mimpi buruk sering menghantuinya. Satu per satu orang-orang yang di sayanginya pergi. Kakek, Nenek, Ayah bahkan seorang yang pernah membuatnya merasa nyaman. Adakah hubungan dengan semua mimpi buruk itu?

***

Membaca novel ini, membuat aku ikut merasakan pula kisah pahit yang di alami Nayla. Tidak bisa membayangkan deh, jika aku yang menjalani kehidupan sangat tragis itu..

Aku sangat suka dengan penulisan mbak Rani yang menggambarkan suasana dengan sangat detail, sehingga aku seolah ikut hadir disana menyaksikan kehidupan Nayla. Di bagian awal cerita memang aku sempat bingung, maksud dari Alter Ego itu apa? Tapi, setelah membaca lembar demi lembar, akhirnya aku tahu juga xD. Dan itu yang membuat aku penasaran di setiap lembar ceritanya, karena banyak sekali twist yang benar-benar membuat tidak terduga xD. Aku beberapa kali sempat salah menebak hihi :)).

Oya dalam novel ini, banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil. Dari kehidupan keluarga, persahabatan dan juga cinta. Intinya novel ini mengajarkan kita, bagaimana mengikhlaskan kehidupan yang telah lalu dan kita harus percaya pada takdir. Bagaimana pun kehidupan kita, sepahit apapun itu, pasti akan berbuah bahagia. Kita harus belajar untuk berdamai dengan masalalu.

Aku juga sangat suka dengan quotesnya yang keren-keren dan sarat akan makna. Oya, untuk kekurangannya, aku lumayan sering menemukan typo-typo. Misal di hlm. 8 kata makam yang seharusnya makan. Juga banyak kata-kata disetiap akhir kalimat yang lupa membubuhkan tanda titik. Ada yang salah ketik juga. Oya ada yang salah penyebutan orangnya pada hlm. 159 yang seharusnya yang menghardik Nayla adalah Gerald, tapi disitu ditulisnya Guntur. Agak sedikit menganggu, tapi untuk keseluruhan ceritanya aku suka sekali. Aku beri 4 bintang! Yay! Semoga nanti jika cetak ulang, segera diperbaiki agar pembaca nyaman saat membacanya :)). And last, sukses buat mbak Rani untuk kedepannya! Aku tunggu karya-karya terbaikmu lagi mbak :)).

Nah ini supaya semakin penasaran, aku share quotesnya nih gaes! Jangan lupa ya mampir ke toko buku dan bawa pulang Alter Ego ini :).

1). Kehilangan adalah cara kita mengingat apa yang pernah kita miliki. Oleh karena itu jagalah selagi kamu masih bisa menjaganya. [Hlm. 18]
2). Waktu akan menggilas habis apa saja yang bergantung padanya. Sehingga alangkah baiknya tidak bergantung pada waktu, tetapi aturlah waktu sehingga kau tidak akan habis digilas zaman. Salah satu caranya adalah terus melangkah didepan waktu, jangan menengok ke belakang apalagi berhenti. [Hlm. 35]
3). Jalan yang akan kamu temui memang tidak gampang. Kamu gak boleh menyerah dan mundur menuju ujung jalan yang sesuai harapan. [Hlm. 143]
4). Hidup adalah rangkaian skenario. Jalani saja kehidupan. Hadapi apa yang ada di depan. Jangan tengok ke belakang. Karena sesungguhnya takdir akan membawamu pada akhir yang terbaik. Percayalah. [Hlm. 225]

Aside

Dera and The Past Memories #NulisRandom2015 #Day18

Tags

Tidak terasa hari ini Dera sudah masuk sekolah setelah dua hari kemarin izin. Dera merasa jauh lebih baik, dia merasa lebih bersemangat. Perasaannya kepada Alfi, Dera tidak tahu, yang dia rasakan dia nyaman jika bersama cowok itu. Dera pun ingin memastikan terlebih dahulu kejadian-kejadian tempo hari saat di kantin, benarkan jika Nadya memiliki rasa yang sama kepada Alfi? Ah, semoga saja tidak, dalam benak Dera.

Hari ini rencananya Dera akan memastikan itu semua. Dera harus menanyakan kepada Nadya tentang ini. Ya, itu berarti dia harus menyiapkan mental. Tapi, bagaimana jika Nadya, sahabat yang begitu disayangi Dera benar menyukai Alfi? Pertanyaan itu terus-terusan muncul di pikiran Dera. Tapi Dera butuh kepastian, dia butuh kejelasan. Bagaimanapun hasilnya nanti, dia harus memantapkan hati untuk menerimanya.

***

Sekarang Dera sudah berada di dalam kelas. Hari masih sangat pagi. Udara terasa sangat dingin karena hujan saat subuh tadi. Dera menghirup udara dengan satu tarikan nafas yang panjang lalu perlahan-lahan dihembuskan, dia melakukannya secara berulang-ulang. Menurutnya cara ini bisa menjadi terapi untuk mempersiapkan diri nanti saat Dera menanyakan tentang perasaan Nadya kepada Alfi.

Menit demi menit berlalu, satu per satu teman-temannya mulai berdatangan. Mereka sangat ramah. Tak lupa mereka menanyakan pula keabsenan Dera selama dua hari kemarin.

Tak lama kemudian, Dera melihat orang yang ditunggu-tunggu. Itu Nadya sedang berjalan menuju kelas. Tapi, astaga Alfi berada disampingnya. Apakah mereka berangkat bersama? Uh, perasaan seperti cemburu langsung hinggap di hati Dera. Baiklah, semua harus jelas hari ini. Kita tunggu saja keputusannya nanti.

Aside

Dera and The Past Memories #NulisRandom2015 #Day17

Tags

Setelah Nadya dan Alfi pamit pulang, Mama langsung memberondong petanyaan-pertanyaan. Tepat, seperti dugaan Dera.

“Jadi kamu deket sama Alfi?”

“Ya, deket sebagai temen Ma,”

“Bener? Kok kayanya…”

“Duh, Mama. Plis deh, kami cuma teman. Aku, Nadya, Alfi. Teman Ma, oke?”

“Duh, masa sih sayang? Mama perhatiin dia keliatannya ada sesuatu lho sama kamu, dia keliatannya perhatian sama kamu. Mama sih setuju kok, mana Alfi ganteng pula,” Mama mulai menggoda Dera.

“Duh, Ma. Udah deh jangan ngeledekin Dera gitu ah, ntar Dera ngambek nih,” canda Dera.

“Iya, iya jangan ngambek dong. Yaudah kamu mandi sana, udah sore tuh. Biar badan kamu seger juga,”

“Oke, siap Ma. Yaudah Dera mandi dulu ya Ma,” Dera langsung beranjak ke kamar mandi.

“Iya, abis itu kamu turun ke bawah ya. Cari angin seger biar cepet baikan,”

“Iya Ma, iyaa” kata Dera dari dalam kamar mandi.

Setelah Dera mandi, dia turun ke lantai bawah. Dia langsung mencari Mamanya dan ingin mengajak Mamanya berjalan-jalan menemaninya.

Aside

Dera and The Past Memories #NulisRandom2015 #Day16

Tags

Nadya dan Alfi datang. Awalnya Dera pikir, ia akan merasa kikuk atau canggung, tapi Dera lupa, selama masih ada Nadya didekatnya, suasana akan ramai.

Mama terlihat senang sekali mereka berdua datang. Bahkan, Mama langsung akrab dengan Alfi. Ah, Mama pasti langsung memberondong pertanyaan deh setelah mereka pulang, pasti. Dera selalu mengerti sifat Mamanya.

“Eh, Ra, jadi ulangan tadi tuh susah tau. Susah banget, duh gue sampe pusing banget deh, haha.” Nadya memulai pembicaraan. Duh, dia malah langsung membicarakan tentang ulangan.

“Ha? Serius? Duh mana ntar gue susulan sendiri lagi Nad” Dera sudah mulai was-was, kebiasaannya jika sedang panik.

“Aduh Nadya lo gak usah jahat gitu dong sama Dera. Bukannya dateng-dateng nanya keadaannya kek, malah ngomongin ulangan. Lo tenang aja Ra, ulangannya batal. Oya gimana? Masih pusing kepala lo?,” tanya Alfi.

“Apa? Ulangan batal? Serius? Dasar lo Nad, jahat ya lo! Bakalan gue bales lo. Oh, ngg.. Iya udah mendingan kok Fi, makasih ya,” Dera agak gugup, kenapa juga dia tadi marah-marah sama Nadya di depan Alfi gitu. Nanti malah Alfi nyangkanya gimana lagi, duh. Dera membatin.

“Syukurlah kalo gitu,” kata Alfi sambil tersenyum. Senyum yang memikat, tentu saja.

“Hahaha ya maap deh Dera, gue cuma mau ngisengin lu doang, haha. Sori yee, oya gue mau minta maap juga, kayanya lo gak enak badan dari kemaren, tapi gue ga sadar, kalo tau gitu kan kemaren gak usah ke mall kita, maaf ya Raa,” Nadya langsung mendekati Dera dan langsung memeluknya.

“Duh, iya gak apa-apa kok Nad. Lah lo tau sendiri kan, kalo udah belanja, lo bahagianya kaya mana, gue gak tega,” Dera berusaha memaklumi sahabatnya itu.

“Ah, makasih ya Ra”

“Sama-sama,”

Setelah itu mereka pun asyik berbincang-bincang. Dera merasa sungguh bahagia, memiliki sahabat seperti Nadya. Dan sekarang hadir Alfi, orang yang membuat Dera lebih bersemangat lagi untuk hidup. Membangun kembali semagat Dera untuk meraih semua mimpinya. Hari ini Dera merasa sangat bahagia.

Aside

[Review] Teenlit: Pojok Lavender by Primadonna Angela

Tags

, ,

Judul: Pojok Lavender
Penulis: Primadonna Angela
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-979-22-9490-3
Jumlah halaman: 256

**SINOPSIS**

Banyak hal dapat terjadi dalam sebuah kafe. Kafe bisa menjadi latar berseminya cinta sampai patahnya hati, menjadi saksi perselisihan sampai saksi persahabatan yang tulus, tempat seseorang mengembangkan harapan atau mematikannya. Drama kehidupan, yang silih berganti.

Dalam buku ini ada beraneka kisah yang berkaitan dengan Pojok Lavender. Ya, Lavender Rosemary, adik Cinnamon Cherry, juga punya ceritanya sendiri. Tapi apa kisah cintanya akan berakhir indah seperti yang dialami banyak pasangan yang berkencan di kafenya?

**REVIEW**

Wah, jujur ya, ini adalah kumcer yang paling bagus yang pernah aku baca. Karena ceritanya meskipun berbeda-beda, tapi ada yang menjadikan penghubungnya. Ya, pojok lavender. Pojok lavender disini itu adalah sebuah kafe. Kafe apa? Cari tau sendiri aja ya. Caranya? Ya beli dong! :)).

Nah, dalam kumcer Pojok Lavender ini, total ada 16 judul cerita lho gaes! Mau tau apa aja? Oke, karena aku baik, aku kasih tau yaaa *tsah sok baik* hihihi :)). Jengg.. Jenggg ini diaaa…
1. Mantan Sahabat
2. Semesta yang Dihuni berdua
3. Modus Operandi
4. Kopi, Saat Jatuh Cinta
5. Kencan Pertama
6. Cinta Itu Seperti Hujan
7. Pretty Duckling
8. Aku, Malaikat Pelindungmu
9. Konser
10. Broadcast Message
11. 39.000 Kaki
12. The Sight
13. Hmm…
14. Dua Cahaya
15. Pojok Lavender
16. #Sisterzone

Nah, dari 16 judul diatas, yang menjadi favoritku adalah Pretty Duckling. Karena aku sangat suka dengan kisah si sosok “Kepang Dua”. Penasaran ya gaes? Makanya yuk di beli aja :p. Oya aku juga suka bangeet sama quote-quotenya. Jadi di setiap awal cerita ini, bunda Donna memberikan quote dan gambar/ ilustrasi juga lho, bikin ngiler. Iya, soalnya gambarnya menu-menu yang ada di kafe itu sih :p hihihi.

Okedeh, karena aku baik (lagi), aku juga mau share quotes-nya nih. Cekidoot:
1). Karena asa, cinta, dan lara bisa bermula dari sesuatu yang sederhana.
2). Kejujuran diperlukan dalam sebuah percintaan. Karena asumsi dan dugaan hanya akan jadi siksaan.
3). Kadang kenyataan menggebrak, melabrak, mendobrak, membuat hidup yang sepertinya biasa-biasa saja, jadi semarak.
4). Karena cinta bisa saja menjelma dalam sekejap mata.
5). Kesan yang didapat pertama-tama belum tentu akan bertahan selamanya.
6). Kadang kita berharap semua akan mudah kala jatuh cinta. Kenyataannya, yang sering dihadapi apa? Susah! Perasaan tiap orang berbeda, bisa jadi masalah. Ya, begitulah.
7). Kecantikan dan kebahagiaan sejati ada di dalam hati. Bukan pada penilaian orang lain yang melakukannya sembari bermain-main.
8). Kalau tidak diucapkan, siapa yang akan tahu? Kalau tidak diutarakan, bagaimana berharap orang lain akan memahamimu? Tapi mungkin ada hikmah di balik semua itu. Barangkali ada orang lain yang ditakdirkan menjadi pasanganmu.
9). Membuat pilihan memang susah. Semoga saja hasilnya takkan membuatmu resah.
10). Ah, teknologi! Kadang membuat berseri-seri! Kadang membuat jeri!
11). Cinta bisa jadi baru disadari, ketika dia tak lagi ada di sisi.
12). Yang namanya kasih sayang bisa menerjang kapan saja, tanpa perlu menabuh genderang. Yang namanya cinta? Begitu pula.
13). Berbuat kebenaran dan melawan godaan… Kadang keduanya sulit dilakukan.
14). Kalau benar-benar cinta dan percaya, menanti adalah pekerjaan yang mudah luar biasa.
15). Kadang sesuatu baru terasa berarti setelah dia pergi.
16). Menanti, ah menanti. Sampai kapan harus tetap sendiri? Bilakah engkau punya nyali untuk melihatku, benar-benar melihatku?

Nah gimana gaes? Keren-keren kan quotes-nya? Ngena kan? Iya kan? Iya dong *lah jawab sendiri* :)). Atau ada yang merasa tertohok? Kalo aku sih ada, iya. Merasa tersindir lho aku bunda Donna hihi :)).

Itulah yang aku suka, dalam kumcer ini, banyak sekali lho, pelajaran yang kita dapat, banyak sekali sentilan-sentilan dalam kehidupan sehari-hari. Memang ciri khas bunda Donna sih, kalo menurutku :)). Jadi yuk gaes buruan baca! Udah baca sendiri kan quotes-nya di atas? Apalagi ceritanya wah keren-keren deh pokoknya. Penuh kejutan di setiap ceritanya.

Inilah saatnya daku memberi rating… Jeng.. Jengg.. Jenggg.. Aku kasih 4 bintang buat kumcer ini! Yay! Sukaa banget sama quotes dan cerita yang penuh sentilan ini, hehehe.