Tags

Mencintai dua lelaki sekaligus? Bagaimana bisa? Kau bodoh atau sudah gila?!

Kata-kata itu semakin sering mengganggu pikiranku. Ya, aku menyukai dua lelaki sekaligus. Apa aku salah? Oh, ya semua orang juga pasti menganggapku salah. Lebih tepatnya… Gila. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak menghiraukan pandangan aneh orang-orang disekitarku atau cibiran-cibiran yang membuat telingaku panas. AKU TIDAK PEDULI DENGAN MEREKA. Yang aku tahu hanya satu, aku mencintai kedua lelakiku.

Sebenarnya ini bukan pilihanku, atau bisa dibilang, aku tidak mampu untuk memilih diantara keduanya–Ray dan Jo–mereka memiliki arti penting dalam hidupku. Kisah cintaku awalnya baik-baik saja ketika aku dan Ray menjalin hubungan. Namun, tiba-tiba lelaki dari masalaluku–Jo–datang kembali dikehidupanku. Jo datang dengan sejuta harapan. Aku pun luluh dengan sikapnya, tentu kami berhubungan kembali. Tanpa diketahui Ray pastinya. Ya, aku tahu aku bodoh dan gila. Tapi itulah yang terjadi padaku.

Menjalin hubungan dengan dua lelaki, aku harus pintar mengatur waktu dan menyembunyikan rahasiaku. Untunglah, meskipun mungkin banyak yang mengetahuiku memiliki dua kekasih, namun tampaknya Ray dan Jo tidak mencium kebohonganku.

Semua berawal ketika setahun yang lalu, Jo menghubungiku. Jo adalah cinta pertamaku.

“Nasha, apa kabar? Ini aku, Jo”

Ketika mendengar suara itu, aku kaget seketika. Darimana dia tahu nomor ponselku? Saat itu yang kurasakan entahlah. Terlalu sulit untuk diungkapkan. Campuran rasa rindu, bingung, kesal, kecewa berbaur menjadi satu. Aku kecewa padanya, karena dulu Ia meninggalkanku begitu saja. Tapi, sejujurnya aku masih mengharapkannya. Dan semenjak obrolan itu, hubungan kami semakin dekat. Hingga akhirnya Ia memintaku untuk kembali bersamanya, aku tak menolak. Bodohnya aku, aku terlalu bahagia hingga lupa dengan Ray, kekasihku.

Disaat kesadaran mulai utuh, aku tetap pada pilihanku. Memiliki keduanya. Hubungan aku dengan Ray dan Jo hingga kini baik-baik saja. Yang aku syukuri, Ray sering berada di luar kota mengurusi proyeknya. Setidaknya itu mengurangi kecurigaannya terhadapku, menurutku begitu.

Akhir-akhir ini ada yang begitu menganggu pikiranku, percakapanku dengan kakakku, Dean begitu membuatku pusing. Aku ingat sekali detil percakapan kami.

“Nasha, aku dengar dari teman-temanmu, kamu memiliki dua kekasih? Jawab!” bentak kakakku.

“Kata temanku? Siapa kak?” aku tidak berani menatap matanya.

“Jawab Nasha! Apa itu benar!” bentakannya semakin kencang.

Aku sangat takut, tak ada cara lain lagi, pasti kakakku akan semakin mendesak. Baiklah, mungkin sudah saatnya aku mengakui.

“Iya.. I.. Itu benar kak. Aku..”

Tak sempat memberikan pernyataan lebih, kakakku langsung memotong pembicaraan.

“Mencintai dua lelaki sekaligus? Bagaimana bisa? Kau bodoh atau sudah gila?!”

Kata-kata itu sukses membuatku berderai airmata. Aku langsung lari, pergi dari hadapan kakakku.

“Nasha! Kembali!”

Aku tak peduli. Meskipun kakakku terus saja memanggilku, aku tetap diam. Aku menangis. Begitu menyesakkan.

Setelah itu aku jadi berpikir. Sikapku memang salah, sangat salah. Aku memang mencintai Ray dan Jo, tapi aku tak bisa memiliki keduanya. Aku harus pilih salah satu. Aku harus memantapkan pilihan hatiku.

Aku mengingat bagaimana dulu mereka mendapatkanku, pengorbanan dan kebahagiaan yang mereka berikan. Begitu pula rasa kekecewaan yang sempat ditinggalkan.

Akhirnya pilihanku jatuh pada satu nama, Ray. Aku cukup yakin dengan pilihanku. Aku ingat perjuangannya dulu, disaat aku sakit hati ditinggal Jo, dia selalu ada disampingku, selalu menghiburku. Perlahan tapi pasti, aku pun luluh dengan semua usahanya, hingga akhirnya aku merasakan cinta kepadanya, bukan hanya sekadar rasa kasihan atau pelarian. Ray begitu hebat, dia mampu membuatku jatuh cinta disaat aku baru saja merasakan luka. Aku cinta Ray.

Jo. Cinta pertamaku. Dia yang begitu tampan dengan kharisma yang begitu kuat. Mampu meluluhkan hati wanita manapun. Namun kini, Jo adalah bagian masalaluku, aku yakin. Aku salah, tidak seharusnya aku menerimanya kembali. Aku memang menyayanginya. Tapi ini bukan rasa yang seperti dulu, ini adalah rasa sayang sebagai teman. Ya, lebih baik seperti itu, tetap seperti itu.

Setelah yakin dengan semua keputusanku, aku mengutarakan semuanya. Tak ada cela. Aku berusaha jujur. Syukurlah, mereka menerima segala keputusanku ini, tanpa ada rasa marah. Meski sempat syok saat mendegar pengakuanku ketika aku memiliki keduanya. Jo, setelah mendengar keputusanku untuk memutuskannya, dia terima. Bahkan dia meminta maaf tentang kesalahan masalalu. Katanya, Ia sangat menyesal dulu telah meninggalkanku. Tapi Ia mencoba dewasa, menerima segala keputusan yang kubuat.

Akhirnya, semuanya telah jelas. Hanya ada satu lelaki di hatiku, dialah Ray. Ray Widjaja. Aku bahagia bersamanya kini. Tak ada lagi rahasia, tak ada lagi kebohongan. Meniti kehidupan bersama, memulai dari awal kembali. Meninggalkan masalalu, dan menyambut masa depan dengan bahagia.

Advertisements