Tags

“Ehem, serius amat sih neng bacanya”

Dera menengok ke arah suara itu. Alfi sudah duduk disampingnya. Dera tidak menyadari kedatangan cowok itu. Ah, Dera terlalu larut dengan novel yang dibacanya, begitu menguras emosinya.

“Eh, udah dateng lo Fi,” kata Dera sedikit kikuk.

“Baca apaan? Novel romance yah Ra?” Alfi memperhatikan novel yang dibaca Dera, dan tebakannya seratus persen tepat.

“Iya nih, hehe. Hm, jadi kita mau maen apa gimana nih?” Dera semakin canggung.

“Maunya kemana? Gue sih nurut kata elo aja Ra,”

“Gue sih maunya disini aja. Tenang. Gue udah lama ga duduk-duduk disini. Lo ga keberatan kan kalo kita cuma disini aja? Cuma ngobrol-ngobrol aja?”

“Ya gak apa-apa dong. Iya enak disini. Adem. Eh mau tau dong itu novel ceritanya tentang apa?” sepertinya Alfi tertarik dengan apa yang dibaca Dera tadi.

“Beneran mau tau? Baca sendiri aja deh, ntar gue pinjemin deh,”

“Ah elo Ra, yaudah deh ntar gue pinjem. Oya jadi sekarang kita ngobrolin apa nih?” Alfi jadi merasa tidak enak lama kelamaan jika tidak ada bahan pembicaraan.

Dera sangat merasakan situasi yang tidak mengenakkan seperti ini. Dera sadar mungkin tidak ada salahnya Ia jalan-jalan bersama Alfi. Mungkin hanya di sekitar sini saja, mengelilingi komplek perumahannya.

“Mending kita jalan-jalan aja yuk ngelilingin perumahan ini, daripada bengong kayak gini,” Dera berdiri dan mulai berjalan, Ia harap Alfi mengikuti.

“Oke, tapi tunggu dong Ra! Lo ninggalin gue ya, awas lo gue cubit kalo kena!” Alfi mengejar Dera.

Mendengar Alfi bicara seperti itu, Dera memutuskan untuk berlari. Ia tidak ingin tertangkap dan dicubit oleh Alfi. Akhirnya mereka pun seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran.

Advertisements