Tags

,

Judul: Days of Terror: Ketika Waktu dan Kematian Dalam Genggamanmu
Penulis: Ruwi Meita
Editor: Ry Azzura & Ario Sasongko
Penyelaras Aksara: Funy DRW
Penata Letak: Irene Yunita & Erina Puspitasari
Desain dan Ilustrasi Sampul: Dedy Koerniawan & Ayu Widjaja
Penerbit: Bukune
Terbit: Cetakan Pertama, April 2015
Hlm: vi 134; 13 x 19 cm
ISBN: 602-220-155-1

***

Ori terbangun dari tidur dengan panik. Keringat mengucur deras dan detak jantung seakan berlomba dengan napasnya. Mimpi buruk itu terulang lagi. Menyisakan suara yang terus terngiang di telinganya, “Cepat, temukan wanita itu atau hidupmu adalah taruhannya!”

Dia bangkit untuk mengambil segelas air di meja rias. Kemudian, sudut matanya menangkap sebuah bayangan di cermin. Betapa terkejut Ori dengan apa yang dilihatnya; perempuan tua dengan rambut putih, kulit keriput, punggung bungkuk, dan tatapan yang menyeramkan!

“Tidak! Tidak mungkin! Apakah wanita mengerikan itu… AKU?!”

***

Dengan kemampuan pergi ke masa lalu dan masa depan sesuka hati, Ori mengubah cerita hidupnya. Nilai ulangannya kini membaik, janji-janji selalu ia tepati, dan semua hal buruk bisa dicegahnya. Ya, kehadiran kalender misterius itu merupakan anugerah bagi Ori.

Namun, apa yang harus dia lakukan, jika semua kebahagiaan itu mesti dibayar dengan nyawa?

**REVIEW**

Novel ini menceritakan tentang seorang gadis yang beranjak remaja, yang bernama Oriana. Oriana atau biasa di panggil dengan Ori ini merupakan siswi yang masih SMP dan sering ceroboh. Itulah yang menyebabkan dirinya selalu sial, bahkan hampir setiap hari ada saja yang membuatnya kesal. Ori juga orangnya pelupa, teman-temannya sering mengejeknya dengan sebutan Miss P alias Miss Pelupa, terutama Fla, si Nona Sempurna.

Namun, kesialan demi kesialan yang di alami Ori lama-kelamaan pudar. Bahkan dia bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi kepada dirinya. Hal itu karena sebuah Almanak, yang dibeli bundanya. Ketika melihat Almanak itu, ada tulisan yang dipercayai Ori sebagai mantera. Bunyinya adalah:
“Kau sang penjelajah waktu. Hanya kau sang empunya masa. Bukalah lembaran kayu. Lantunkan sebuah mantera. Waktu maju waktu mundur. Pada suatu ketika waktu beku. Semua bisa terjadi saat kau… TERKUTUK.”

Hidup Oriana berubah semenjak dia mengetahui kegunaan dari Almanak itu, dia tidak lagi menjadi pelupa, bahkan dia bisa mendapatkan nilai-nilai yang gemilang! Namun semuanya harus berakhir ketika Ori kembali ke masalalu dan begitu terbangun, Ori berubah menjadi tua! Kutukan itu menimpanya. Apakah Ori bisa terlepas dari kutukan itu? Ikuti kisahnya di Days Of Terror! ^_^

***

Kalau melihat dari covernya, aku kira setting di perpustakaan yang di tonjolkan, tapi aku salah. Hanya sedikit yang di eksplor, meski memang perpustakaan disebutkan sebagai tempat favorit Ori dan sahabatnya, Kalea untuk bersembunyi.

Dari awal membaca cerita ini, mbak Ruwi mampu membawa pembaca untuk menikmati setiap lembar ceritanya, tak lupa bumbu ngeri-ngeri sedap yang bikin merinding, untung aku membacanya siang, kalau malam aku pastikan sering nengok kebelakang, hihi x)).

Kisah dalam cerita ini menarik. Almanak yang dijadikan keunikannya. Kita akan dibuat terkagum dengan cara penulisan mbak Ruwi ketika Ori ada di kehidupan masalalu, sekarang atau masa depan. Kita jadi sulit membedakannya. Penggambaran cerita pun cukup detil, jadi kita seolah merasakan apa yang dirasakan Ori sebagai tokoh utama. Apalagi ketika sosok yang berdesir–yang dipercayai sosok nenek tua itu muncul– membuat kita seperti merasa waspada, seakan kita juga ada yang memperhatikan, hiiiy!

Ciri khas yang lain ada di twistnya. Ada kejutan yang tidak terduga di akhir cerita, aku pun sempat kaget dengan apa yang terjadi dengan Ori di akhirnya, aku juga bertanya-tanya sebenarnya apa sih yang terjadi atau yang dirasakan Ori di dunia nyata ketika dia sedang pergi ke masa lalu atau masa depan itu? Aku bertanya-tanya.

Namun, ada yang membuat bingung, disaat ada kesalahan penyebutan nama, yang seharusnya untuk Ori, tapi tertulis Le, yang berarti Kalea. Dan untuk jumlah halamannya sangat tipis, menurutku. Seandainya bisa lebih tebal lagi, aku yakin sangat banyak yang bisa di eksplor. Tapi untuk keseluruhan cerita aku suka sekali. Novel ini sangat cocok untuk dinikmati dalam sekali duduk. Terutama bagi kamu-kamu para remaja yang ingin membaca genre horor, ini sangat aku rekomendasikan. Aku beri 3,5 bintang untuk novel ini. Sukses selalu buat mba Ruwi! ^_^

Advertisements