Tags

Kini Dera dan Nadya sudah berada di kafe. Dera gelisah, namun dia tak sanggup lagi untuk berdiam diri.

“Eh Nad, lo sama Alfi punya hubungan apa sih? Kok kayanya kalian akrab banget deh,” kata Dera.

“Eh? Gimana ya? Gue sama dia deket sih beberapa hari ini, dia sering nelepon gue, terus dia juga tadi pagi jemput gue Ra, kenapa emang?” Nadya heran Dera bertanya seperti ini.

“Gue mau nanya aja sih, jadi kalian deket ya? Hm, apa lo punya rasa lebih sama dia? Lo naksir dia gitu,” tembak Dera.

“Gue juga bingung. Gue gak tau suka sama dia apa enggak, tapi yang gue rasain waktu deket sama dia, gue ngerasa nyaman aja, dia orangnya asyik banget sih,”

“Oh gitu ya? Hm, kalo misalnya dia tiba-tiba nembak lo gimana? Lo terima?” kata Dera dengan sangat hati-hati.

“Hahaha, lo ada-ada aja deh, kayanya sih dia ga mungkinlah suka sama gue, kayanya sih dia suka sama cewek anak sekolah kita juga, dia bilang gitu sih waktu nelepon gue Ra,”

“Oya? Kira-kira siapa lo tau ga?” Dera tidak sadar dia terlalu antusias bertanya.

“Gue juga gatau siapa. Udah deh, kok lo interogasi gue sih? Jangan-jangan lo lagi yang naksir. Mending pesen apa gitu kek, haus nih. Lo baru dateng udah nanya macem-macem aja,” Nadya tampaknya kurang suka dengan pembicaraan kali ini.

“Oh oke, sori deh. Yaudah lo mau pesen apa Nad?” tanya Dera. Dia merasa tidak enak terhadap Nadya.

“Hm, seperti biasa aja deh, capuccino yah,”

“Oke, gue juga sama deh,”

Pelayan mencatat pesanan mereka. Dan setelah pergi, mereka tampak asyik mengobrolkan sesuatu. Sebenarnya Dera mau bertanya lebih jauh tentang Alfi, namun dia mengurungkan niatnya. Setidaknya, Dera mendapat beberapa informasi, meskipun tidak puas dengan pernyataan Dera tadi. Sepertinya Dera harus mencari tahu sendiri.

Advertisements