Tags

Kini Dera dan Nadya sudah berada di kantin. Suasananya penuh sesak dan ramai. Tak ketinggalan suara-suara teriakan para siswa maupun siswi yang sedang memesan makanan meramaikan suasana kantin ini. Dera dan Nadya pun memilih tempat di bagian pojok yang untungnya masih tersisa untuk dua orang. Oh tidak. Tidak. Satu tepatnya, tapi karena badan mereka kurus-kurus tampaknya cukup, meski harus kesempitan sedikit.

Setelah memesan makanan mereka pun menikmatinya. Nadya, kelihatan lahap sekali. Dera heran, padahal porsi makan Nadya banyak, tapi badannya tetap tidak gemuk-gemuk. Dera menikmati makannya dengan tidak berselera.

Andai saja suasana kantin ini tenang, mungkin Dera akan menanyakan perihal Alfi kepada Nadya. Namun melihat kantin yang begini ramai, Dera pasrah. Mungkin ia akan mencoba waktu pulang sekolah nanti.

“Nad, lo lahap banget, beneran ga sarapan?” tanya Dera ketika melihat Nadya menyuapkan sesendok penuh nasi goreng pesanannya.

“Iya Ra, gue tadi bangun kesiangan, jadi buru-buru ga sempet sarapan dulu,” jawab Nadya setelah menelan makanannya.

“Emang lo semalem tidur jam berapa? Gak biasa-biasanya lo kesiangan?” selidik Dera.

“Hm, semalem gue abis curhat gitu sama Alfi. Dia nelepon gue lho Ra! Dia asyik banget orangnya,”

Deg. Apalagi ini? Apa Dera ungkapkan sekarang saja? Tampaknya waktunya sangat pas. Tapi mengingat banyak siswa-siswi didekat mereka, Dera ragu. Dia takut jika ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Oya? Hm, Nad, gue mau nanya sama lo, tapi ga sekarang deh, balik sekolah kita ke kafe yang deket rumah gue itu yuk,” akhirnya itulah kalimat yang keluar dari mulut Dera.

“Kenapa ga sekarang sih Ra? Tapi okedeh,” Nadya menyanggupi ajakan Dera.

“Sip deh,”

Dalam hati Dera berdoa semoga nanti berjalan lancar. Dia pun mengedarkan pandangan, secara tidak sengaja dia bertatapa dengan mata itu, mata yang begitu teduh, milik Alfi. Selama beberapa detik Dera tidak berkedip, dia juga tidak mampu berkata, bahkan dia lupa cara bagaimana senyum. Hanya debar jantungnya yang semakin kencang.

Andai dia tahu, andai kamu tahu Alfi, aku punya rasa terhadapmu. Ya, aku yakin, aku tak tahu sejak kapan rasa itu hadir, tapi kini hanya satu yang kurasa, sepertinya aku menyayangimu, kata hati Dera.

Advertisements