Tags

“Halo Ra, asik udah masuk. Gimana lo udah sehat banget kan?” sambut Nadya.

“Eh? Iya gue udah sehat Nad,” kataku sambil senyum, sedikit terpaksa.

“Bagus deh Ra, kalo lo udah sehat kan gue gak khawatir” lanjut Alfi.

“Lo khawatir? Sama gue?” kata Dera spontan.

“Hm, iya. Nadya juga. Temen-temen sekelas juga maksudnya,” kata Alfi, terlihat dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Oh,” hanya itu kata yang keluar dari mulut Dera mendengar kata-kata Alfi barusan.

“Yaudah, gue ke bangku gue dulu ya. Kita lanjut nanti ngobrolnya oke? Tuh kayanya bentar lagi guru paling disiplin bakalan dateng,” Alfi menuju bangkunya.

“Oke.” kata Dera dan Nadya bersamaan.

Benar saja, Bu Saras, guru paling disiplin di sekolah ini, sudah memasuki kelas. Bahkan belum bel!

Murid-murid pun menyimak pelajaran dengan serius. Begitu pula Dera. Dia terlihat begitu serius memperhatikan, namun tatapannya terlihat kosong. Banyak pertanyaan dibenaknya yang perlu segera dikeluarkan. Harus hari ini. Dera sudah bertekad. Berarti nanti dia harus berbicara empat mata saja dengan Nadya. Sebaiknya Alfi jangan terlibat terlebih dahulu.

Kenapa jam istirahat terasa begitu lama? Ugh. Dera tak henti-hentinya melirik jam tangannya setiap lima menit sekali, ah tidak. Tidak. Bahkan tiga menit sekali!

Baiklah. Sepertinya memang ini adalah hari yang sangat mendebarkan. Banyak yang harus diketahui kebenarannya. Seberapa siapkah Dera menghadapi? Hanya dia seorang yang mengetahuinya.

Disela-sela pikirannya yang semakin kacau, tiba-tiba terdengar bunyi yang mengagetkan. Bunyi itu terdengar seperti… Bel! Ah, waktunya yang ditunggu-tunggunya telah tiba!

Advertisements