Tags

“Hai, Ra, gue boleh gabung?”

Dera menoleh ke asal suara. Alfi. Apa tadi katanya? Dia mau gabung? Perasaan senang perlahan masuk ke dalam hati Dera. Seketika Dera menoleh ke arah Nadya, seakan meminta persetujuan. Nadya mengangguk mengisyaratkan Alfi boleh untuk bergabung.

Setelah lima menit mereka tidak ada yang berbicara. Sebenarnya Dera mau mengobrol seperti biasa, tapi dia agak canggung. Masa dia mau ngobrolin acara semalam? Tidak, tidak usah. Bahkan Nadya pun tidak tahu jika mereka berdua semalam habis jalan.

Suasana kantin hari ini tidak begitu ramai, beda seperti biasanya. Maklum, sekarang-sekarang ini sedang musim ulangan harian. Biasanya jam istirahat mereka terpakai dan diganti dengan sisa jam pelajaran mereka, agar tidak terpotong waktu pengerjaannya.

“Kalian kok diem aja sih? Apa karena ada gue? Biasanya kalian selalu rame, ga berenti-berenti kalo lagi ngobrol. Kalo gitu gue pergi aja deh ya,”

Alfi tiba-tiba membuka pembicaraan. Ternyata dia menyadari suasana canggung ini.

“Eh, enggak-enggak Fi, gak apa-apa gabung aja. Eh, iya kita pesen makanan yuk, lo mau mesen apa? Lo apa ra? Gue sih kayak biasa aja deh ya, soto. Lo kayak biasa juga gak ra? Kalo lo Fi?”

Astaga. Nadya berubah 180 derajat sikapnya. Padahal tadi tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Eh, tiba-tiba langsung memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tapi syukurlah, sepertinya suasana sudah mulai mencair. Tadi Dera sempat melihat keterkejutan Alfi mendengar Nadya berbicara seperti itu tapi dia segera menutupinya. Ah, Alfi belum kenal siapa Nadya. Si cewek paling bawel menurut Dera.

“Emang biasanya Dera mesen apa?” tanya Alfi.
“Biasanya siomay. Favorit dia tuh, bisa nambah berkali-kali lho, Fi”

Apa? Nadya keterlaluan deh. Dera melototi Nadya, tapi malah di balas dengan peletan.

“Eh jangan percaya Fi, gue emang suka siomay. Tapi ya gak segitunya juga, gue makan porsi cukup kok. Nadya awas lo ya,” Dera malu sama Alfi, dia kan harus jaga image.
“Hahaha, santai aja kali Ra, gue malah suka kok ngeliat cewek makan banyak,” kata Alfi sambil tertawa.

Apa katanya? Alfi suka sama cewek yang makan banyak? Apa kalo gue makan banyak, dia suka sama gue? Aduh mulai ngaco deh gue, batin Dera.

“Haha, masa sih yaudah deh gue mau makan banyak, gue mesen 2 porsi soto. Jadi lo mau mesen apa Fi? Biar sekalian gue pesenin,” kata Nadya.
“Gue pesen nasi uduk aja deh, thanks yah Nad,”
“Oke, Fi. Yaudah gue pesen dulu ya” kata Nadya segera beranjak dari kursinya.
“Okee” kata Dera dan Alfi bersamaan.

Suasana kembali canggung. Dera langsung teringat gerak-gerik Nadya tadi. Apalagi disaat Alfi bicara dia suka cewek yang makan banyak, Nadya langsung bersemangat pesan dua porsi soto. Apakah Nadya naksir Alfi? Ah, Dera tak mau mengira-ngira.

Tak lama kemudian, Dera segera kembali membawa pesanan kami masing-masing. Ah, Nadya benar-benar pesan dua porsi. Apakah benar dia serius suka sama Alfi?

Dera menghabiskan makanannya dengan diam. Dia hanya mendengarkan Nadya dan Alfi yang sangat asyik mengobrol. Tentang apa saja. Sesekali Dera hanya berbicara ‘oh gitu’, ‘iya gue juga’ dan hanya senyum. Senyum yang getir.

Advertisements