Tags

Tak terasa hari sudah sore. Sudah empat jam Dera tidur siang. Perlahan dia membuka matanya dan kesadarannya benar-benar terkumpul sekarang. Dia melirik jam tangan yang selalu melingkar ditangannya, pukul 16:02. Dera baru tersadar ia belum makan siang, cacing-cacing di perutnya seakan meraung-raung untuk segera mendapatkan makanan. Akhirnya Dera turun kebawah, ke meja makan.

Sepi. Sendiri. Ya, Dera memang anak tunggal. Orangtuanya adalah pengusaha sukses yang sibuk. Awalnya hanya papanya yang super sibuk, jarang ada dirumah, baginya pekerjaan adalah segalanya. Sekarang, Mamanya juga ikutan-ikutan, Seingat Dera semenjak setahun yang lalu Mamanya mengikuti jejak Papanya. Ah, sejujurnya Dera capek dengan semua ini, ia selalu merasa kesepian. Ia ingin meminta Mamanya tidak sesibuk dulu, tapi, ia tidak berani mengungkapkannya.

Tiba-tiba suara ponsel Dera berdering, menandakan ada pesan yang masuk.

Hai, nanti malem jalan yuk! Gw tau tempat yg bagus utk ngilangin penat. Jam 7 gw jmpt.

Dera mengeryit, ia tidak kenal dengan nomor handphone yang baru saja mengirim pesan kepadanya. Tapi, kenapa dia tahu ya kalau Dera sedang merasa kepenatan. Dera terbujuk ajakan itu, dia sekarang butuh jalan-jalan, tapi dia takut, bahkan itu nomor yang tidak dikenalnya. Ketika ingin membalas pesan itu, satu pesan lagi masuk dengan nomor yang sama.

Lo ga usah takut. Gw tmn baru di kls lo tadi. Inget gue kan? 🙂

Astaga. Anak baru itu ternyata. Batin Dera. Namun karena Dera lagi butuh penyegaran, akhirnya dia menerima ajakan itu. Toh, sepertinya anak baru itu baik.

Oke. Nanti ya jam 7? Eh lo dpt nmr gw dari mana?

Pesan Dera langsung dibalas beberapa detik setelah itu

Ga penting. Sip, see ya!

Dera memandangi balasan itu, dia bingung. Namun tanpa sadar, jauh di lubuh hatinya, dia merasa sesuatu yang selama ini hilang, telah hadir kembali.

Advertisements