Tags

Bel masuk pun berdering. Seketika murid-murid yang tadi mengerumuni kelas Dera, satu persatu menuju kelasnya masing-masing. Dalam hitungan menit kelas itu tampak hening. Dera dan Nadya segera memasuki kelas karena sekarang pelajaran Pak Samsul, guru Fisika yang terkenal killer di SMA Pelita III.

Ketika memasuki kelas, Dera terkejut. Dia terpaku menatap sepasang mata berwarna coklat dan beralis tebal itu. Sekelebat ingatannya tentang Davin kembali muncul.

“Ra, ayo buruan duduk, tuh Pak Samsul udah deket. Ra.. Deraa.. Woy! Elo bengong ya? Tanya Nadya mengagetkan Dera dan langsung menarik tangan Dera ke bangku mereka.
“Hah? Apa? Sori-sori gue gak bengong kok, lo tuh bisa gak sih gak pake teriak segala. Gue malu tau anak-anak pada ngeliatin kan jadinya” kata Dera dengan suara yang berbisik.
“Ya abisnya lo malah diem aja di pintu, kan bahaya kalo Pak Samsul ngeliat kita belum duduk rapi” sahut Nadya.
“Iya deh gue ngaku salah” kata Dera
“Emang lo tadi kenapa? Oh jangan-jangan lo ngeliatin tuh anak baru kan? Lo naksir pada pandangan pertama ya? Hayoo ngaku lo sama gue” kata Nadya sambil menahan tawa.

Dalam hati Dera merasa kata-kata Nadya tadi konyol, tapi dia tadi merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dalam jiwanya. Dera ingin menjawab pertanyaan konyol Nadya tadi, namun tiba-tiba Pak Samsul muncul. Ternyata tidak sendiri, Pak Doni selaku wali kelas XII IPA 2 masuk juga.

“Selamat pagi, semua” kata Pak Doni dengan senyumannya yang khas.
“Selamat pagiii Pak” jawab semua murid kelas XII IPA 2.
“Seperti yang telah kalian ketahui, hari ini ada murid baru di kelas kita, namanya Alfi Sandi Permana dia dari Jakarta. Bapak tidak akan meminta dia berkenalan di depan kelas, Bapak taulah kalian sudah remaja, jadi nanti saja kenalan sendiri waktu istirahat. Baiklah Bapak permisi ya anak-anak. Mari Pak Samsul” kata Pak Doni.
“Mari, mari” jawab Pak Samsul.

Advertisements