Tags

Hujan rintik-rintik mengguyur kota Bandung. Suasana dingin dan bau aroma tanah yang kuat memberi kesan tersendiri bagi Dera Alissa Cliandra. Ya, gadis berusia 17 tahun itu kini tampak termenung. Matanya seakan menerawang jauh sekali. Sesekali tampak menghirup udara dalam-dalam dan bulir-bulir air tampaknya mulai membasahi pipinya.

Hari ini tepat setahun meninggalnya Davin, pacar yang sangat Dera sayangi. Kejadian tahun lalu banyak membuat hidup Dera berubah. Dera yang dulu adalah gadis yang periang, ramah, mudah bergaul dan penuh dengan kejutan. Namun Dera yang sekarang sangat jauh berbeda, dia lebih suka sendiri, jarang keluar rumah, kaku dengan orang lain dan masih menutup hatinya rapat-rapat kepada cowok manapun.

Kenangan diri Davin masih teringat jelas dalam ingatan Dera, terlebih suara cowok itu. Percakapan terakhir mereka masih lekat dalam ingatan Dera.
“Ra, gimana? Udah siap belum? Aku bentar lagi ke rumah kamu” saat Davin menelepon Dera setahu yang lalu.
“Iya, aku bentar lagi siap kok, yaudah kamu kesini aja sekarang biar pas kamu sampe aku siap” jawab Dera.
“Oke deh, aku kesana sekarang. Eits kamu dandan yang cantik ya” kata Davin.
“Iya, masa aku gak dandan sih? Ini kan moment spesial kita”
“Sip, yaudah see you” kata Davin mengakhiri pembicaran.
“See you,”

Saat itu Dera merasa senang sekali, dia sudah dandan secantik mungkin untuk perayaan hari jadian mereka. Hingga tak lama kemudian, ponselnya berdering dan kabar buruk itu tiba.

“Halo, sayang ini Tante Risa. Tante mau ngabarin kalo Dav.. Davin” suara Mamanya Davin terdengar menangis.
“Davin kenapa Tante? Davin kenapa? Tante kok nangis” potong Dera dan mulai merasa panik.
“Davin kecelakaan sayang, dia.. Dia meninggal” suara tangis Tante Risa semakin kuat.
“Apa?? Tante ini gak mungkin. Gak mungkin..” Dera langsung menangis dan mulai sempoyongan.
“Dera ini benar-benar terjadi, kamu cepat kesini ya, jenazahnya masih di Rumah Sakit. Tapi sebentar lagi di anter ke Rumah” isak tangis Mama Davin semakin jelas.
“I..iya Tan, aku segera kesana”

Saat itu di hari pemakaman Davin, Dera benar-benar tidak kuat. Dera beberapa kali pingsan. Dera tidak sanggup melihat jenazah Davin masuk ke liang lahat.

Sejak saat itu hidup Dera terasa hampa. Dia merasa ada bagian dari jiwanya yang kosong. Namun untungnya Dera memiliki sahabat seperti Nadya, seorang yang selalu ada di samping Dera. Dia yang selama setahun terakhir ini berusaha mengembalikan keceriaan Dera yang dulu. Nadya yakin perlahan tapi pasti Dera akan berubah, meskipun sulit namun Nadya akan selalu berusaha. Dia ingin melihat sahabatnya ceria dan selalu tersenyum.

Tunggu kelanjutannya besok yaa!

Advertisements