Tags

“Lo… Serius Nel?”
“Iyalah, kenapa? Lo takut? Ayolah Ra, gue penasaran banget sama cerita orang-orang itu.” bisikku kepada Fira, aku tak mau teman-temanku yang lain mendengar tentang rencanaku, karena sekarang sedang jam istirahat.
“Iya, gue tau. Tapi eng… Lo yakin?”
“Gue yakin banget, lo kan tau sendiri gue paling gak percaya sama cerita tentang hantu-hantu. Jadi gue mau buktiin bener apa gak sih kata orang-orang itu. Gini deh, biar gak cuma kita berdua, gue bakal ajak Dery sama Alfian juga, gimana?”
“Oke deh kalo mereka ikut, seenggaknya mereka bakal ngelindungin kita kalo sesuatu yang menakutkan–”
“Sssttt! Udah lo tenang aja Ra, setan, hantu, dedemit itu gak ada!” aku memotong omongan Fira dan segera mengeluarkan ponsel dari sakuku. Aku mengetik SMS untuk Dery dan Alfian dengan isi yang sama.

– Nanti malem, gue punya rencana nyelidikin gedung tua Lt. 4 itu. Lo harus ikut! Gak ada alesan! –

Beberapa detik kemudian SMS itu terkirim. Aku yakin mereka berdua pasti ikut. Ah, aku tak sabar menunggu malam tiba. Kalau ditanya apakah aku takut, aku menjawab: Ya, mungkin. Tapi rasa penasaran lebih besar dari rasa takutku itu. Itulah aku, Nelsyah Amira.

***

Sekarang jam sembilan malam lewat 6 menit. Kami berempat, aku, Fira, Dery dan Alfian, sudah berada di depan gedung tua. Ah, kenapa tiba-tiba nyaliku jadi ciut? Batinku. Memang dari luar gedung ini sangat seram sekali. Tidak ada pencahayaan apapun, bahkan lampu penerang jalan ada ada di ujung tikungan sana, membuat penerangan di tempat kami berdiri, hanya remang-remang. Aku berkata dalam hati, aku harus terlihat berani di depan teman-temanku.

“Nel, gue takut nih. Balik aja yuk” Fira meremas jari-jariku. Aku melihat kecemasan di wajahnya, meskipun penerangan minim, aku bisa melihat raut cemas di wajahnya.
“Hmm.. Udah tanggung nih Ra, kita udah sampe sini. Tenang, kita gak boleh saling jauh-jauhan oke? Der, Al, kalian gak boleh jauh-jauh dari gue dan Fira, denger kan?” aku mengingatkan mereka.
“Iya, yaudah yuk masuk, nanti tambah larut lagi, makin serem hiii…” kata Alfian menakuti kami.
“Ah lo Al, nakutin mereka aja, tenang, kalian gak usah takut. Kan ada gue yang selalu melindungi”
Ah, kata-kata Dery membuatku lebih tenang akhirnya aku mengajak mereka segera memasuki gedung ini .”Yuk, masuk.”

Kami berjalan pelan-pelan. Aku mengeluarkan empat senter yang telah aku siapkan dari rumah, meski tadi aku sempat ditanya oleh Papa, untuk ada senter-senter itu kubawa. Aku hanya menggeleng kepada Papa dan untunglah ia tak bertanya lebih jauh lagi.

Kami mulai menyusuri gedung ini, terlihat banyak sekali coretan di sana-sini dindingnya. Lantai satu berhasil kami lewati, begitu pula lantai dua, lantai tiga. Sejauh ini tidak ada apa-apa. Aku merasa sedikit lega. Namun tiba-tiba aku ingat, tujuan kami ada di lantai empat. Ah, sebentar lagi kami akan menuju kesana.

“Jangan buat jarak jauh-jauh. Fira jangan panik, Dery tajamkan pendengaran dan penglihatan lo, Al lindungin Fira, jangan sampe dia ketakutan” tegasku mengingatkan.
“Oke” kata Dery dan Alfian bersamaan.

“Hihihihihihihi”

Deg, jantungku berdegup kencang. Apakah aku berhalusinasi? Suara apa tadi? Ataukah kuntilanak?

“Nel, lo denger gak?” bisik Dery.
“Iya, lo juga? Gue kira cuma gue doang, oke, fokus dengerin lagi” padahal aku sudah merasa takut setengah mati.

Kami sekarang ada di bawah tangga, diatas sana lantai empat. Aku dan Dery menyoroti senter kami ke atas. Tidak ada apa-apa.

“Hihihihihihi”

Dengan cepat aku menyoroti senterku lagi. Dan.. Astaga! Sosok perempuan berambut panjang, berbusana putih dan melayang!.

“AAAAAA BURUAN LARIIII! KUNTILANAKKK!”

Aku benar-benar ketakutan sekarang dan aku memutuskan untuk mengajak mereka segera pergi dari tempat ini. Ah, omongan orang-orang itu benar. Namun sosok itu melayang dengan cepat dan seketika sudah berada di hadapan kami.

“Tolong aku” suara sosok itu tiba-tiba mengangetkan kami.
“M-maksudnya apa?” tanya Alfian.
“Aku tau kalian anak baik, tolong temukan jenazahku, aku di bunuh oleh Bos ku sendiri, dia menguburku di balik tembok lantai empat, di sebelah toilet. Tolong aku, aku ingin tenang.”
“B-baiklah, aku akan meminta pertolongan warga disini, mungkin besok baru bisa, sekarang kami boleh pulang? Kami janji akan menolongmu” aku memberanikan diri membuka mulut.
“Ya, baiklah. Aku percaya, tapi jangan ingkari janji kalian. Sekarang pulanglah” kata sosok itu dan dia tiba-tiba menghilang.

Kami segera berlari keluar. Kami bahkan masih gemetar walau kami sudah berada di luar. Sekarang aku benar-benar percaya kata orang-orang. Aku janji besok pagi aku akan segera melaporkan hal ini ke Polisi dan warga sekitar sini.

Tulisan ini diikutkan dalam #NulisHoror #RahasiaLantaiKeempat @TakutItuNyata

Advertisements