Tags

,

Penulis: Okke ‘Sepatumerah’
Editor: Herlina P. Dewi
Desain cover: Felix Rubenta
Penerbit: Stiletto Book
ISBN: 978-602-7572-21-8
Cetakan I, Desember 2013
Tanggal Terbit: 6 Jan 2014
Jumlah Halaman: 204 halaman
Berat Buku: 220
Dimensi: 13 x 19 cm

**SINOPSIS**

“Lo … nggak rela gue nikah dengan Dewo?” Aku memberanikan diri untuk menembaknya.
“Apa masih penting, Nin? Gue rasa enggak, udah nggak penting.” Lanang sama sekali tidak menatapku.
“Penting, Nyet. Penting buat gue.” Suaraku terdengar parau, “Lo nggak rela gue menikah?”
“Sudahlah, Nin. Lupakan. Gue ngaco aja tadi,”
“Lanang. Please jawab. Lo nggak rela?” Suaraku melirih.
“Nggak!” Ia menatap manik mataku,”Puas lo?”

Life goes on. Tapi terkadang ada kenangan-kenangan indah yang membuat seseorang enggan melangkah menuju masa depan. Itulah yang terjadi dengan Menina. Hubungannya dengan Lanang, sang mantan pacar, begitu membekas di hatinya, bahkan sampai ia dilamar oleh pria lain yang lebih mencintainya.

Ketidakmampuannya melupakan masa lalu membuat Menina secara impulsif memutuskan melakukan perjalanan terakhir bersama Lanang ke Yogyakarta. Siapa yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi? Saat Menina dan Lanang berada di Yogyakarta, terjadilah gempa bumi 5.9 SR yang memakan banyak korban.

Menina menyaksikan begitu banyak hal yang membuatnya kembali berpikir tentang hubungannya bersama Lanang dan juga calon suaminya. Apakah yang terjadi pada mereka berdua?

**REVIEW**

Novel ini menceritakan tentang kisah dan kegalauan Menina, perempuan berusia 28 tahun yang tiba-tiba saja dilamar oleh kekasihnya, Dewo. Saat itu tepat hari ulang tahunnya. Mereka baru berpacaran 10 bulan. Ketika Dewo tiba-tiba bilang ingin melamarnya, tanpa sadar Nina mengangguk, mengiyakan. Namun Nina sadar, apakah yang diputuskannya benar? Dia shock dan memutuskan untuk curhat, kepada… Lanang, mantan pacarnya. Namun akibat curhatannya lewat email itu, mereka berdua malah akhirnya bertemu dan membuat Menina semakin ragu dengan Dewo, calon suaminya. Akibat pertemuan itu, rencana Nina banyak yang tak sesuai, bahkan dia malah turun di Yogya, karena ajakan Lanang. Hingga mereka terjebak dalam musibah gempa, yang membuat Nina tetap tinggal selama beberapa hari dan disinilah konflik itu mulai terjadi… *mulai seru* xD

Wah, novel ini dari covernya aja unyu, aku suka banget dengan motif-motif seperti batik itu ditambah dengan ilustrasi seorang cewek memakai gaun pengantin dan ada dua orang cowok di sisinya, yang memang menggambarkan tentang cerita dari isi bukunya.

Aku suka dengan gaya penulisan mbak Okke, gaul dan santai xD. Ditambah dengan selipan bahasa daerah yang memang menambah kesan yang kuat dalam novel ini. Jujur, aku memang sangat suka dengan novel yang seperti itu :D.
Terlebih ketika mbak Okke menggambarkan situasi gempa yang begitu… Mencekam, hiruk-pikuk, tangisan, teriakan, ah aku seolah-olah ikut merasakan juga, feel-nya dapet banget, ngena gitu hehe xD

Aku sempet salah tebak, lho. Aku kira Menina akhirnya sama si… Haha tapi ternyata enggak, dan endingnya aku setuju banget dengan pemikirannya Nina. Karena tanpa sadar aku ngangguk-ngangguk sendiri (Loh?) dan terharu waktu bagian anak kecil yang kehilangan bapaknya karena tertimbun akibat gempa ;(

Dari novel ini kita juga banyak tau kalo menikah itu enggak mudah, tapi juga tidak sesulit yang kita bayangkan, karena buktinya bisa survived xD hihi..
Aku yang masih remaja gini aja begitu menikmati kisah Menina ini lho, banyak hal yang aku jadi tau juga. ^_^

Kalo dari kekurangan, ada sedikit yang menganggu. Yaitu pada hal. 90 dan 95 ada perubahan font tulisannya, tapi itu tidak terlalu menganggu kok, terus karena dari judulnya memang Pre Wedding “Rush” jadi ceritanya memang bener-bener Rush, padahal jika ditambah 1-2 bab lagi aja, wah pasti bakal tambah keren hehe.. Dan secara keseluruhan aku suka novel ini. Aku kasih 4 bintang! Yeay ^_^

**Quote Favorit**

~”Kita sering nggak menganggap orang-orang terdekat sebagai anugerah. Seberapa sering kita nggak memedulikan mereka? Kita anggap memang mereka seharusnya ada di sana. We take them for granted. Orang-orang tersebut baru akan terasa istimewa setelah kita kehilangan mereka. Bener banget kalau disebut you don’t know what you’ve got till it’s gone.” [Hal. 151]

~”Masa lalu adalah masa lalu, sesekali melihat mungkin perlu, tapi tidak perlu mencoba untuk mengulang lagi apa yang pernah terjadi. Karena waktu terus berjalan, membangun banyak cerita, mengubah seseorang, mengubah keadaan. Tidak akan mungkin ketika kita mencoba untuk mengulang semuanya akan menjadi sama seperti dulu.” [Hal. 188-189]

Advertisements